Kenapa Sih Suka Make Up?

IMG_4845

bubuk-bubuk kebahagiaan

Rasanya sudah seabad lamanya saya tidak bersua.

Bukan karena kehabisan bahan, bukan karena ketiadaan waktu (well, sebenarnya memang sedang kesulitan membagi waktu), tapi lebih kepada suka mikir,”Ini perlu nggak sih beginian direview dan dipublish?”

Belakangan ini, saya sedang sering dikecewakan oleh produk yang saya beli. Untuk menulis reviewnya, rasanya, kurang rela. Masa iya sih saya mempublish tulisan tentang produk yang kurang saya suka? Ah, tapi rasanya itu hanya alasan. Intinya, saya sedang banyak malasnya. Karenanya, kali ini saya cuma ingin berbagi curhatan yang mungkin kurang penting.

Bagi pembaca, kapan sih kalian mulai menyukai make up?

Saya sendiri mulai suka make up saat kuliah, itu pun bukan di awal-awal semester. Awalnya cuma coba-coba BB Cream yang saat itu mulai ngetren, lalu mulai coba pakai bedak two way cake punya kakak yang sudah enggak dia pakai, lalu saya mulai baca-baca review make up di forum, di blog, di youtube, hingga akhirnya sekarang saya kesulitan lepas dari make up.

Sejujurnya, saya belum pernah menyukai sesuatu melebihi make up. Saya selalu bersemangat saat menceritakan make up. Saya tidak pernah kehabisan bahan obrolan bila itu menyangkut soal make up. Saya merasa ada perasaan bahagia ketika memoleskan lipstick, mascara, foundation, blush on, atau powder ke wajah saya. Tapi ternyata, saya jauh lebih bahagia lagi saat merias wajah orang lain.

Saya pemalas. Bahkan saya seringkali bangun tidur hanya setengah jam sebelum waktu kuliah. Waktu itu saya pakai untuk mandi dan dandan. Iya, waktu sesedikit itu bisa membuat saya lebih presentable.

Makanya, saya mengangguk-angguk saat membaca tulisan ini: Make Up Harian, Hanya 15 Menit untuk Tampil Memukau Setiap Hari!

Ternyata, bukan cuma saya satu-satunya perempuan di muka bumi yang (mungkin) pemalasnya bukan main, tapi tetap ingin tampil pantas. Waktu yang singkat itu saya manfaatkan untuk pakai sunscreen, bedak, pensil alis, dan lipstick. Itu terhitung lagi niat banget. Sedangkan sehari-hari saya lebih suka hanya pakai lipstick demi menghemat waktu. Tanpa lipstick, saya hampir selalu dikira sakit. Tapi demi keperluan foto, saya selalu berusaha tampil all out.

Kembali ke pertanyaan yang jadi judul post ini, kenapa sih saya suka make up?

Kalau mau jujur, make up itu butuh banyak banget perjuangan. Coba-coba produknya tapi terkadang ternyata produknya tidak sebagus klaimnya, harganya yang kelewat mahal, atau yang lebih buruk lagi ternyata bikin break out. Waktu yang dibutuhkan untuk aplikasi make up komplit pun lamanya minta ampun.

Saya sendiri pun sering bertanya-tanya, kenapa sih saya bisa secinta ini dengan make up? Tapi lalu saya sadar, saya tidak sempurna, termasuk untuk urusan fisik. Bahkan untuk memiliki wajah mulus pun masih jauh. Hidung mancung pun tidak. Pipi tirus pun tak punya. Make up bisa memperbaiki itu. Saya tulis, memperbaiki, bukan menjadikannya sempurna. Saya merasa paling tidak, saya berusaha untuk tampil lebih baik di hadapan orang lain. Saya berusaha mencintai diri saya sendiri, bukan dengan mengeluh karena wajah yang butuh koreksi, tapi dengan menonjolkan dan menutupi bagian tertentu dari wajah saya. Saya tidak lagi khawatir dengan komentar orang lain. Bagi saya, make up adalah cara saya menghargai apa yang sudah Tuhan beri.

Satu hal lagi, make up adalah skill. Tidak semua orang bisa memakai make up. Sama halnya dengan menyanyi, melukis, atau menari. Tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik. Jika saya menguasai make up, setidaknya, ada hal yang tidak semua orang bisa lakukan, tapi saya bisa. Skill itu mahal, kan?

Oh, satu hal lagi. Saya mencintai make up karena mereka mampu mengajarkan saya untuk sabar, telaten, terus belajar dan yang lebih penting: rajin menabung.

Bagaimana dengan kamu? Sudah tahu jawabannya?