[Review] Sunshine Becomes You, Penerus Tetralogi 4 Musim



          Judul                     : Sunshine Becomes You
          Penulis                   : Ilana Tan
          Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama
          Kota/Tahun            : Jakarta/2012
          ISBN                       : 978-979-22-7813-2
          Jumlah Halaman    : 432

          Ilana Tan dikenal sebagai spesialis penulis genre Metropop. Begitu juga dengan novel terbarunya setelah tetralogi 4 musim yang sukses di pasaran, Sunshine Becomes You.
          Kisah bermula pada pertemuan Mia Clark, seorang penari kontemporer dengan Alex Hirano, pianis hebat yang juga kakak dari teman Mia, Ray Hirano. Karena ketidaksengajaan, Mia membuat tangan Alex ‘cacat’, padahal sebentar lagi ia harus mengadakan konser yang akhirnya terpaksa dibatalkan.
          Sejak itulah, Mia memutuskan untuk menjadikan dirinya tangan kiri Alex, walau jelas-jelas pria itu tidak ingin berurusan lagi dengan wanita yang ia anggap malaikat kegelapannya.
          Tapi seiring berjalannya waktu, Alex tahu anggapannya tentang gadis itu salah. Tak butuh waktu lama untuk menjadikan Mia sebagai orang terpenting dalam hidup Alex. Namun sakit jantung yang diderita Mia membuatnya tidak ingin berurusan dengan laki-laki mana pun. Walau begitu, Alex tetap mencintai Mia dengan sangat.


          Gaya bahasa khas Ilana Tan menjadikan novel ini sangat mudah dimengerti oleh pembaca. Seperti novel-novel Ilana Tan yang lain, Sunshine Becomes You berlatar luar negeri, kali ini New York menjadi pilihannya. Penggambaran cerita dari Ilana Tan yang selalu luar biasa membuat saya tidak merasa masuk ke dalam ceritanya.
          Saya sangat kagum dengan kemampuan Ilana Tan menggambarkan situasi dan suasana di tempat-tempat asing. Sosok Ilana Tan yang sampai saat ini masih misterius membuat saya bertanya-tanya, apakah Ilana Tan orang yang sering bepergian ke luar negeri? Ataukah memang dia menetap di sana. Gagasan itu muncul dengan sendirinya, mengingat Ilana Tan terasa sangat mengenal baik lokasi-lokasi yang dipilihnya untuk dijadikan latar novelnya. Bahkan, saat pertama kali membaca novelnya, saya sempat yakin bahwa novelnya adalah novel terjemahan, tapi ternyata saya salah.
          Lebih jauh lagi dengan jalan cerita, saya sebenarnya sudah bisa menebak jalan ceritanya sejak halaman awal novel ini. Tapi tetap saja hal itu tidak mengurangi keinginan saya untuk membaca novel ini hingga selesai. Dan saya tetap saja menangis membaca deskripsi-deskripsi sederhana bernada sedih walaupun sudah tahu akan seperti ini juga. Overall, Ilana Tan sukses membuat saya galau karena novelnya.
Advertisements

[Review] Negeri 5 Menara : Menjadi Lebih Bersyukur

Judul: Negeri 5 Menara
Penulis: A. Fuadi
Editor: Mirna Yulistianti
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Kota/Tahun: Jakarta/2011
ISBN: 978-979-22-4861-6
Jumlah Halaman: 428

Jangan ragu untuk bermimpi setinggi-tingginya. Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh A. Fuadi, sang penulis saat akhirnya memutuskan untuk menuliskan kisah hidupnya ke dalam bentuk novel.
Kisah panjang hidupnya tertuang dalam sebuah novel yang cukup tebal berawal dari keberhasilan tokoh Alif, yang diadaptasi dari sang penulis sendiri, berhasil lulus dari Madrasah Tsanawiyah dan masuk sebagai 10 peraih nilai terbaik di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Keinginnya jelas, untuk melanjutkan pendidikan ke SMA terbaik di sana. Akan tetapi, keinginannya itu tak sejalan dengan keinginan orangtuanya. Mereka meminta Alif untuk bersekolah sambil mondok, agar Alif mendapatkan pendidikan agama yang lebih dalam lagi.
Walau dengan setengah hati, akhirnya Alif menurut. Ia masuk ke pondok pesantren Madani, Jawa Timur atas saran pamannya. Di sana ia berteman dekat dengan Baso, Said, Atang, dan Dul. Mereka mendapat julukan ‘Sahibul Menara’ karena sangat suka berkumpul di bawah menara masjid Pondok Madani.
Pada akhirnya, Alif merasa tidak menyesal memilih Pondok Madani. Banyak hal yang pada awalnya terpaksa dipelajarinya, menjadi sesuatu yang berguna dan dinikmatinya. Termasuk kalimat yang paling mempengaruhi hidupnya, ‘Man Jadda Wajada’ yang berarti ‘siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil’.
Membaca novel ini, membuat saya berpikir keras, bagaimana bisa seorang Alif yang awalnya buta Bahasa Arab pada akhirnya bisa menguasai bahasa itu? Bagaimana bisa keputusan setengah hati Alif membawanya pada keindahan? Sungguh suatu cerita yang memiliki daya tarik yang sangat kuat, ditambah dengan olah kata yang cerdas, dan cerita yang mengalir, membuat novel ini sangat layak dibaca oleh siapa saja.
Tulisan A. Fuadi ini sangat berbobot dan berilmu, tanpa sedikit pun terkesan menggurui. Walau banyak istilah yang asing, tapi tetap tidak mengurangi pemahaman pembaca, karena penulis dapat menjelaskannya dengan lugas dan jelas.
Penulis bisa membuat emosi saya naik turun dan terkadang kesal kenapa ceritanya jadi begini. Tapi pada akhirnya, novel ini berhasil membuat saya banyak merenung dan bersyukur, bahwa saya telah diberikan berkah yang lebih dari orang lain. Saya tidak perlu memutuskan sesuatu dengan setengah hati, karena selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Saya tidak perlu berjauhan dengan orangtua saya. Dan yang pasti, saya tidak perlu merasa bahwa saya tidak akan berhasil. Karena itu, untuk sang penulis, A. Fuadi, saya ucapkan terima kasih.