Twitter Tips : Punya Banyak Followers

Sekarang ini, Twitter juga lagi jadi social networking yang berjaya. Karena apa? Entahlah. Aku sendiri juga lebih sering ngetweet dibanding facebookan. Tapi bukan berarti aku punya banyak followers juga sih. Bagiku, punya banyak followers toh enggak penting-penting amat. Malahan kalo difollow orang penting, mau ngegalau malu gitu :p
Bedanya facebook dengan twitter, kita bisa ‘mengoceh’ di twitter setiap lima menit , tanpa dianggap gila. Coba aja kayak gitu di facebook, hihi. Selain itu jarang banget ada orang alay di twitter. Kalo di facebook, para jempolers udah pasti punya buanyak banget temen, di twitter yang kelewatan begitu malah gak akan punya banyak followers. Ya begitulah dinamika, hoho. Jadi, gimana ya biar punya banyak followers, tapi tanpa perlu ‘membeli’ mereka? Simak tipsnya berikut ini:
     1. Jadilah diri sendiri
Ini sederhana, tapi penting. Enggak usah sok-sokan jadi orang sepinter Einstein atau jadi orang yang tahu segala hal. Kamu bisa mulai dengan apa yang bener-bener kamu sukai dan kuasai. Misal, hobi. Kamu bisa ngetweet segala hal yang berkaitan dengan hobimu. Pasti ada aja yang tertarik dan akhirnya follow kamu deh! J
    2.Pakai ‘Reply’ dan bukan Retweet!
Ini sebenernya hal mendasar, sih. Jujur aku lebih suka pake Reply, karena bisa muat lebih banyak karakter, dan yang jelas rapi diliat. Tapi, untuk keperluan tertentu emang harus pake Retweet. Misal, untuk membiarkan tweet itu diketahui follower kita. Kalau itu sih emang harus pake Retweet. Tapi inget ya, jangan terlalu rame pake retweet, soalnya followers kamu akan terganggu.

 
3  3.Jangan terlalu sering ngetweet, atau sebaliknya
Ini agak susah. Keseringan ngetweet juga banyak yang akhirnya nge-unfollow, tapi kalo jarang ngetweet juga enggak ada yang follow, haha. Jadi, yang penting teratur aja ngetweetnya.
4  4.Tweet yang informatif dan lain daripada yang lain
Walaupun hal-hal sepele yang kita omongin di twitter, tapi kalo ada kesan ‘informatif’, maka sedikit-banyak kita akan dinilai ‘berbobot’. Selain informatif, keberanian buat ngetweet yang nyeleneh asal enggak menyinggung orang lain juga perlu tuh! Liat aja contohnya: @radityadika @poconggg @benakribo atau @shitlicious mereka itu kaum-kaum gila, tapi buktinya followers mereka bejibun. Mereka juga enggak segan buat mengkritik hal-hal ganjil di sekitar mereka.
5  5. Pakai ava pribadi
Sebagus-bagusnya benda, pasti lebih menarik wajah kita *sikasik* kan? Hehe. Biasanya, ada poin plus yang orang lain kasih ke kita kalau foto kita keliatan berkualitas. Entah dari segi kamera, angle, cara pengambilan, keunikan dari fotonya sendiri, atau dari segi editan, itu juga bisa menarik perhatian. Jadi, pintar-pintarlah memilih ava!
6  6.Bio yang mengundang rasa penasaran
Isilah bio kamu dengan hal-hal yang menarik dan buat orang lain penasaran. Misal, keahlian kamu, siapa idola kamu, minat kamu, atau yang lain. Biasanya, hal-hal sepele seperti ini tetep bisa membuat orang tertarik. So, be creative!
Masih banyak hal yang bisa jadi pertimbangan, tapi aku rasa 6 poin itu cukup. Yang paling penting, manfaatkan akun twittermu untuk berbagi hal-hal yang positif! Salam!
Advertisements

5 Aktor yang Berakting Paling Total!

Aktor Indonesia banyak yang berkualitas, loh. Kita juga harus menghargai produk dalam negeri dong ya, hehe. Sebenernya banyak banget sih yang total waktu berakting, tapi karena takut kebanyakan, ya 5 aja dulu ya. Mereka-mereka ini menurutku keren banget kalo akting, total dan wah pokoknya. Check them : 
1. Vino G Bastian

Vino G Bastian adalah salah satu aktor Indonesia yang enggak ada matinya. Enggak tahu kenapa, aktor satu ini selaluuuu ada aja yang dimainin. Dari FTV sampe layar lebar. Karena apa? Menurutku pribadi sih karena memang dia kalo akting total banget. Dia selalu bisa jadi siapa aja, sesuai karakternya. Dia selalu seperti menjadi dirinya sendiri, padahal yang sedang ia mainkan adalah sebuah peran yang bukan dia banget. Contoh, di film Tentang Cinta, dia berhasil banget bikin penontonnya galau (baca: saya dan teman-teman saya), entah yang lain, hehe. Tapi karena aku dan teman-teman yang emang melankolis banget kalo nonton film, ya pasti dibikin nangis kejer sama aktingnya. Waktu itu aku nonton film ini kelas 2/3 SMP (dan sudah melankolis). Dia bener-bener bisa kelihatan menderita banget. Tapi di film Punk In Love, dia seriusan bikin ilfeel. Ngakak abis waktu nontonnya. Jauh beda banget karakternya, dan itu salah satu bukti, kalau dia emang jago akting!

2 2. Reza Rahadian
Nah, yang ini juga. Aku suka banget sama setiap aktingnya. Mau antagonis atau protagonis, entah kenapa aktingnya selalu ‘menyihir’. Menurutku, aku bisa ‘terbawa’ sama aktingnya. Aku enggak inget film apa yang pertama kali aku tonton sampe bisa tahu yang namanya Reza Rahadian. Salah satu filmnya yang buat aku kagum sama aktingnya adalah film Perempuan Berkalung Sorban. Di sini dia berperan antagonis, bareng Revalina S. Temat dan Oka Antara. Dia berperan sebagai anak pemilik pondok pesantren yang katanya halus budi tapi sebenernya serigala berbulu domba *halah*. Dia bener-bener bisa bikin marah waktu kita nonton. Aaarrrrggghhh! Pokoknya aku bisa bener-bener benci banget sama dia di film ini. Itu tandanya, akting dia bagus! Nah, yang bikin aku kaget adalah waktu dia jadi model video klipnya Opick yang judulnya saya lupa, hehe. Di video klip ini dia berperan jadi tukang judi. Lagi-lagi aku kagum. Dia bener-bener bisa menyampaikan pesan lagunya. Walau bisa dibilang berperan antagonis juga, tapi kita justru bisa dapet sisi baik tokoh yang sedang diperankan sama Reza di sini. Naah, yang baru-baru ini aku tonton, tapi udah agak lama sih filmnya, yaitu Hari untuk Amanda. Dia main bareng Oka Antara lagi. Di sini perannya enggak antagonis, tapi berselisih gitu sama pemain utamanya (Fany siapa gitu :P) yang ceritanya adalah calon istrinya. Dia bisa bikin aku emosional dan (lagi-lagi) nangis. Keren pokoknya!
3 3. Oka Antara 
Si ganteng satu ini ngingetin aku sama Uki ‘Peterpan’ setiap ngeliatnya. Wajahnya emang ciri khas pemain protagonis, dan jujur bikin penasaran gimana kalo dia mainnya antagonis. Kita tunggu saja! Oke, aku pertama kali liat dia di film Perempuan Berkalung Sorban itu. Di sini Oka Antara berperan lebih banyak dari Reza Rahadian. Ceritanya tragis dan enggak ketebak. Aku nonton film ini kelas 3 SMP, bareng temen-temen les matematika dan guru matematikanya juga (dan di rumah ibu guru itu juga), oke enggak penting juga. Jadi, di film ini ceritanya Oka Antara cinta sama Revalina S. Temat. Tapi yang namanya cinta, pasti banyak banget halangannya. Tapi, waktu akhirnya mereka menikah, eeeh, mati! Ini orang mati, sama orang suruhannya Reza Rahadian. Waaaw! So poor! Aktingnya pas dan ngena. Bisa ditebaklah, aku berlinang air mata. Dia juga sering muncul di FTV, dan yang paling aku inget adalah saat dia main FTV bareng Acha Septriasa. Judulnya lupa. Di sini dia  berperan jadi orang yang slengean, humoris, dan lucu. Aku paling suka aktingnya dia di sini, karena kayaknya ini emang bener-bener karakter dirinya sendiri. Dia bener-bener kelihatan cinta beneran sama si Acha, dan itu yang paling bikin aku kagum. Pendar-pendar matanya itu lho! Dia juga main di Hari untuk Amanda, dan berperan sebagai Hari, orang yang santai menjalani hidup, setia, bertanggung jawab, dan humoris (lagi). Di sini dia lucu, tapi juga menyedihkan, karena dia harus melihat mantannya yang masih dia cintai menikah dengan orang lain. Dia tetep berusaha bahagia, walau sebenernya dia juga nangis karena ini. Ah, yang ini bikin aku nangis (lagi) T_T.
4 4. Ringgo Agus Rahman
Kalo yang ini aku baru kepikiran. Terkenal lewat film Jomblo, nama Ringgo Agus Rahman semakin dikenal luas. Aktingnya ceplas-ceplos dan bikin orang ketawa. Agak lupa juga sama film ini, karena udah lama banget. Tapi yang pasti, aku tetep suka aktingnya waktu dia main di Si Jago Merah. Aktingnya halus dan malah kelihatan spontan. Wajahnya selalu kelihatan enggak ada beban dan rileks waktu berakting, kecuali di adegan tegang :D. Denger-denger, dia juga sering dapet penghargaan karena aktingnya. Sukses, Brooo!
4 5. Nicholas Saputra
Siapa coba yang enggak kenal Nicholas Saputra? Menurutku, awal mula peningkatan kualitas aktor ya dari si ganteng ini. Film Ada Apa Dengan Cinta yang populer banget dan menjadi tolok ukur revolusi perfilman Indonesia menjadikannya sebagai salah satu aktor yang paling diperhitungkan. Berperan sebagai cowok misterius dan pendiam bikin dia jadi idola banyak remaja.  Tokoh ‘Rangga’ begitu melekat dalam dirinya, bahkan hingga sekarang. Karena apa? Menurutku sih, karena dia sukses banget memainkan peran itu. Film Ada Apa Dengan Cinta juga sampe dibikin versi serialnya, saking larisnya. Tapi sayang, untuk tokoh Rangga enggak make Nicholas Saputra lagi. Sekarang ini, Nicholas Saputra jarang kelihatan di tivi, kecuali di iklan Clear 😀
Oke, itulah kelima aktor yang menurutku paling total dalam berakting. Semoga saja semakin banyak aktor-aktor seperti mereka ini dan bikin perfilman Indonesia semakin bagus lagi. Salam!

[Review] Novel 5cm. : Bagus Sih, Tapi ….

Kali ini, aku mau membicarakan sebuah novel yang cukup fenomenal. Sejak beberapa tahun lalu, novel ini digembar-gemborkan sebagai novel yang ‘haram’ dilewatkan. Bahkan sampe ada omongan gini,”Kalo kamu suka baca novel tapi belum baca 5cm sih bukan pecinta novel sejati namanya!”
Nggak tau juga ya kenapa harus ada omongan begitu. Temenku sendiri juga ngomong dengan wajah kaget waktu aku bilang belum baca novel ini. Katanya,”Ya ampun, belum baca? Kasian amat ….”
Dari situ, aku mulai penasaran ada apa dengan novel ini. Dari SMP temenku udah nyinggung sih, tapi saat itu belum terlalu niat. Akhirnya, setelah temenku yang mengusahakan agar aku bisa baca novel ini, rasa penasaranku terlunasi.
Dilihat dari depan, covernya cukup bikin penasaran. Keseluruhan novel tertutup warna hitam, dengan judul novel yang besar berwarna putih. Ada kalimat-kalimat dari Kahlil Gibran dibalik judul novelnya, tipis aja.
Masuk ke halaman-halaman awal, aku agak kurang sreg sama cara penulis (Bang Donny) mengenalkan para tokohnya. Menurutku, ini ngebuat POV (Point Of View) nya terbatas, karena si penulis menggunakan metode analitik (pengenalan karakter secara langsung). Selain itu, banyak quote-quote yang dimasukkan juga. Menurutku, bagus sih, tapi … itu bikin ceritanya jadi agak keganggu. Nggak konsisten, keluar dari ‘kerangka’ atau apalah namanya.

Di halaman-halaman selanjutnya, aku jadi tahu banget si penulis ini penggila filosofi. Para tokoh, yaitu 5 sahabat ini digambarkan ‘gila’, nyeleneh, pokoknya gitu deh, tapi suka ngefilosofi bareng. Menurutku, ini bagus, karena karakter jadi kelihatan ‘hidup’ karena, belum pernah aku nemu perpaduan karakter yang aneh begitu. Tapi, efek sampingnya, kita (pembaca) harus berusaha keras banget untuk ‘masuk’ ke dalam ceritanya, karena ya itu tadi, para tokoh suka banget berfilosofi, baik dari quote tokoh-tokoh terkenal, sampai lagu-lagu yang berjubel banget di novelnya. Jujur, untuk ini, aku ENGGAK SUKA BANGET. Aku suka quote dan filosofi, tapi nggak tau kenapa, untuk dicampur adukkan dalam novel aku malah nggak bisa menikmatinya.
Aneh, sulit dicerna, tidak hidup, dan sebagainya. Bayangin aja ya, tokoh-tokoh asing penggagas quote dan filosofi mampir setiap bab. Lagu-lagu yang nggak setiap orang tahu juga ditulis setiap bab. Aku jadi bertanya-tanya sendiri,”Apa sahabat ini setiap ketemu nyanyi dan bahas filosofi, ya?”
Dari situ, aku mulai males, tapi terus lanjut. Di sini, si tokoh Ian, yang digambarkan gendut, ceritanya suka banget ngoleksi VCD Porno. Menurutku ini juga bagus buat menghidupkan karakter. Si penulis cukup berani di sini. Tapi, aku garis bawahi ya … si penulis keblabasan. Gimana bisa situs-situs porno ditulis jelas dalam sebuah novel, di bagian narasi pula! Ini seolah-olah mengajarkan pembaca buat buka situs itu. Dari sini kita juga jadi tahu, kalo si penulis (mungkin) juga pernah buka situs itu. Lucu, kan? Aku bertanya-tanya, editornya kenapa enggak ngedit bagian ini? Terlalu frontal, nggak mendidik, dan entahlah. Pokoknya aku benci banget bagian narasi ini.  Apalagi si Riani, satu-satunya cewek dalam persahabatan mereka ini juga diceritakan minjem VCD-nya Ian, walau tadinya menentang. Apa bener sih semua mahasiswa begitu? Aku pikir enggak deh, ya.
Dilanjut pas ceritanya kelima sahabat memutuskan untuk berpisah dulu selama 3 bulan, biar agak ‘lepas’ dari kegilaan mereka. Ini juga agak aneh, karena selama 3 bulan itu yang diceritakan hanya beberapa tokohnya, itu pun enggak ada yang istimewa. Daaan, ada yang bikin aku ngerasa,”Ceritanya begini doang?” adalah waktu si Zafran (si penyair) kalau nggak salah *lupa* atau si Genta, ya? chatting sama seseorang. Mereka saling curhat. Lucunya, yang curhat sama Zafran (atau Genta atau siapalah) itu adalah OG (office girl)nya si Riani. Di sini, aku nemu keanehan. What’s wrong wiff this woman? Enggak ada urusannya, kan? Jadi, waktu mau kenalan, komputernya Zafran tiba-tiba mati. Di seberang sana, si OG marah-marah. LALU APA? Enggak ada apa-apa. Begitu doang. Aneh nggak sih? Lucu atau apa? Bingung aku juga mau ngomong apa.
Lalu, kelima sahabat pergi ke Mahameru, setelah 3 bulan enggak ketemu. Setelah baca waktu mereka di Mahameru, aku yakin 100% si penulis menggunakan pengalamannya sendiri. Kentara banget. Itu bagus, tapi juga jadi terkesan melupakan ‘keawaman’ para pembaca. Nggak semua pembaca itu suka naik gunung, kan? Aku bacanya seolah-olah aku buta banget soal naik gunung. Padahal, di novelnya Esti Kinasih yang judulnya Cewek!!! Juga naik gunung, tapi aku nggak merasa bego waktu bacanya.
Yang unik, perjalanan kelima sahabat dari Jakarta sampe Malang, terus ke puncak Mahameru itu hampir ngabisin lebih dari setengah dari total halaman novel. Ini aneh, karena kesannya jadi kayak novel travelling. Kalo konsepnya kaya Naked Traveller-nya Trinity, mungkin lain ya.
Pas halaman udah tinggal dikiiiiiittt lagi, aku mulai bertanya-tanya,”Mana konfliknya?”
Nah, ini diaaaa! Mana konfliknya?? Enggak ada, menurutku. Satu-satunya hal yang bikin aku agak tegang adalah saat Ian dikira mati. Jadi, secara keseluruhan, novel ini ceritanya begini: kelima sahabat berpisah sementara – ketemu lagi – naik gunung bareng – sahabatan sampe akhirnya mereka punya anak. Iya, terus konfliknya apa? Aku juga nggak tau. L
Kisah cinta Genta, Zafran, Riani, dan Dinda (adiknya Arial, salah satu dari 5 tokoh utama) yang ternyata saling terbalik itu jelas bukan konflik.
Sampe akhirnya, aku bikin keputusan yang belum pernah banget aku ambil: Aku enggak baca sampe selesai. Kenapa? Karena enggak ada yang bisa diharapkan lagi. Amanatnya emang jelas, kita harus berani bermimpi dan berusaha meraihnya, tapi ya … amanat doang kan enggak bisa langsung bikin pembaca puas, kan?
Overall, aku kecewa. Sebuah novel yang udah dicetak berbelas atau bahkan sampe sekarang udah berpuluh-puluh kali, bahkan enggak bisa bikin aku baca sampe selese. Masalah selera sih. Tapi novelnya Iwan Setyawan – 9 Summers 10 Auntumns yang jauh dari kategori seleraku aja bisa aku selesein. Tipis sih, tapi kalo udah bukan seleraku, biasanya mau setipis apa pun juga enggak aku baca. So, heran aja kenapa Goodreads bisa menobatkan novel 5cm. sebagai salah satu novel terbaik sepanjang masa. Enggak jelek, tapi enggak memuaskan untuk novel sepopuler ini.
Oh ya, belum selese. Itu tadi reviewku sebagai pembaca. Karena aku juga suka nulis, aku ingin sedikit berkomentar soal novel ini sebagai sesama penulis:
1.    Teknik penulisan kacau balau (Banyak banget yang bukan dialog tapi ada tanda petik, atau sebaliknya)
2.    EYD bukan teman baik si penulis
3.    Deskripsi yang terlalu mendalam, bikin karakter lain jadi ‘tenggelam’
Itu aja sih. Tapi, yang cukup mengganggu memang poin 1 dan 2. Sebagai penulis yang masih belajar dan awam, aku selalu berusaha menulis dengan benar dulu (bukan bagus), karena yang jadi perhatian pertama dari pembaca pastilah ‘kerapihan’ dari naskah. 
Untuk novel ini, aku kasih nilai (skala 1-10) hanya 7.00 *jujur*
          Segitu dulu aja yaaa. Maaf lho kalau ada pihak-pihak yang tersinggung, terutama Bang Donny. Ini pendapatku ajasih sebagai pembaca. Toh semuanya kembali ke pembaca masing-masing. Enggak ada niat untuk menjelek-jelekkan sama sekali. Aku juga belum ada novel yang diterbitkan kok. Untuk perhatiannya, terima kasih ^_^