Evanescence – My Immortal

I’m so tired of being here, suppressed by all my childish fears
And if you have to leave, I wish that you would just leave
Your presence still lingers here and it won’t leave me alone

These wounds won’t seem to heal, this pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

When you cried, I’d wipe away all of your tears
When you’d scream, I’d fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me

You used to captivate me by your resonating light
Now, I’m bound by the life you left behind
Your face it haunts my once pleasant dreams
Your voice it chased away all the sanity in me

These wounds won’t seem to heal, this pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

When you cried, I’d wipe away all of your tears
When you’d scream, I’d fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me

I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me, I’ve been alone all along

When you cried, I’d wipe away all of your tears
When you’d scream, I’d fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me, me, me

Malaikat


Kini, aku terjebak dalam keadaan yang tak ku sukai. Di depanku, berdiri bayanganku. Ia ada, karena aku ada. Juga, karena ada cermin yang dingin berdiri tegak di hadapanku. Aku merasa ini adalah mimpi. Karena, cermin di kamarku bukanlah seperti yang ada di hadapanku kini. Aku benar-benar muak melihat bayanganku sendiri. Ingin sekali aku meremukkan semua yang ada di dalam cermin. Kau tahu mengapa aku membenci benda bernama cermin?
“Kamu tambah cantik aja deh, Ren…,” kata Tio, pacarku saat ini.
            Aku tersenyum mendengar pujiannya. Dan beberapa jam setelah pertemuanku dengannya, aku akan berhadapan dengan cermin kesayanganku di dalam kamar. Aku mematut diriku di depan cermin. Berharap, itu akan membuatku semakin percaya diri. Namun, sesuatu yang terlihat bukanlah seperti keinginanku. Bayanganku, munafik. Aku bingung harus menggunakan kata selain munafik. Karena mungkin, itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan diriku saat ini. Seketika amarahku meluap, emosiku meledak.
Aku akan menjadi orang yang paling mengerikan di dunia. Aku menghancurkan barang-barang yang ada di depanku. Apapun. Bahkan, cermin kesayanganku yang selalu aku percaya tak lagi kupertahankan. Aku pecahkan dia dengan bola basket yang ada di dalam kamarku. Tak cukup sampai di situ, kuamuki semua yang ada di dalam kamar. Barang-barang tak berguna seperti sisir, bedak, parfum, eye shadow, blush on, eye liner, foundation, lip gloss, dan semua alat make up yang membuatku merubah semua penampilanku. Semua. Dan itu membuatku teramat munafik! Serpihan kaca yang pecah, berhamburan ke segala arah. Dan serunya, ada yang menancap ke tanganku, wajahku, bahkan kakiku. Begitu kunikmati. Begitu menyenangkan bagiku. Aku menilik lantai, terlihat darah berceceran. Bau anyirnya membuatku mual. Wajahku penuh dengan darah dan peluh. Dan setelah itu, aku jatuh pingsan. Hopefully I’m dying.
Aku masih memandang bayanganku di cermin. Aku berpikir mengapa aku berada di ruangan yang seakan tanpa batas ini. Selagi aku sedang berpikir, tiba-tiba, ada bayangan lain di belakang bayanganku. Dari cermin, aku bisa melihat orang itu. Orang yang berpakaian aneh. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia mengenakan jubah berwarna hitam, sehingga separuh wajahnya tidak terlihat. Ia tidak terlihat seperti wanita, tidak juga seperti pria. Aku mengerutkan keningku melihat kehadirannya yang tidak ku duga. Orang itu tersenyum padaku. Dan yang aneh, aku membalas senyumannya. Namun, sekejap mata, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya. Aku tersentak melihat apa yang ada di tangannya. Sebuah pisau tajam. Ia melirikku dengan mata yang teramat tajam. Aku menahan nafas, tidak berani memalingkan wajahku ke arah belakangku. Tidak kuduga, ia melempar pisaunya ke arahku. Karena aku sedang menghadap cermin, yang berarti posisiku membelakangi orang itu, aku tidak siap dengan aksi tiba-tibanya itu. Aku hanya dapat pasrah, mungkin inilah ajalku. Mungkin, dia malaikat maut itu. Beberapa detik telah berlalu, namun, aku tidak merasakan punggungku tertancap pisau. Aku membuka mataku pelan-pelan. Lalu, ku lihat dari cermin ada orang lain di belakang orang yang berpakaian jubah hitam. Ia memegang sebuah pisau dengan posisi pisau seperti habis di tangkap. Aku kaget. Apakah pisau itu menembus cermin, lalu menerjang ke arah bayangan? Dan, siapa orang itu? Orang yang menolongku? Ia berjubah putih, sebagian wajahnya yang terlihat bersinar. Ia tersenyum pada bayanganku. Aku pun tersenyum. Namun, orang yang hendak membunuhku menggeretakkan giginya, tanda geram. Lalu, ia menghilang begitu saja. Tentu saja aku heran. Kemudian, aku berbalik arah. Dan yang membuatku heran, tidak ada siapa-siapa di belakangku. Tapi saat aku menghadap cermin kembali, aku menemukan orang penolongku.          
“Terima kasih,” kataku dari dalam lubuk hati. Ia tersenyum.          
             “Belum waktumu untuk meninggalkan dunia ini. Jangan lagi kau mendahului apa yang telah Tuhan tetapkan. Kembalilah ke alam sadarmu, keluargamu terus menangisimu,” kata orang berwajah bersih itu.          
             “Apa, kau… malaikat?” tanyaku. Ia menatapku dengan lembut. Namun, ia tidak menjawab pertanyaanku.
Aku sama sekali tidak menyangka, yang menolongku dari kematian adalah benda yang ku anggap alat ‘kemunafikan’. Ternyata justru ia yang menjadi penyelamatku. Paling tidak, perantaranya.
Tiba-tiba, kepalaku sangat pusing. Berputar, berputar, dan berputar terus. Sakitnya bukan main dan aku merasa seperti berada dalam lorong waktu kehidupan. Lalu, samar-samar kudengar suara tangisan. Terdengar pula suara orang banyak. Kubuka pelan-pelan mataku. Kulihat kilauan cahaya yang membuat mataku perih menahan silau. Beberapa detik kemudian, baru mataku bisa menyesuaikan diri.
            “Rena, kamu sudah sadar, Sayang?” sapa seseorang yang berada di sampingku. Aku mengaduh. Kepalaku masih pusing.
            “Apanya yang sakit, Sayang?” ia mengulang.
            “Ibu?” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Kulihat matanya berkaca-kaca. Banyak orang di dalam ruangan serba putih ini. Beberapa saat aku baru sadar itu adalah keluarga besarku.
            “Apa yang terjadi? Kau mengigau di alam mimpimu. Maafkan ibu, ibu kurang waktu untukmu. Ibu tahu ini salah ibu..,” kata ibu dengan air mata tak henti mengalir.
            “Bu, aku bertemu malaikat. Aku tidak jadi meninggal, karena di tolong malaikat itu.”
Ibu dan semua keluargaku tersentak mendengar apa yang aku ucapkan. Tanpa berkata-kata lagi, ibu memelukku erat. Aku mengira ini di rumah sakit. Infus berisi darah mengalir melewati selang kecil, lalu memasuki urat nadiku. Aku melihat orang berpakaian putih itu lagi. Ia ada di atas, dan tersenyum padaku. Aku tahu, ini berkat jasanya.
            “Sampaikan salamku pada Tuhan. Terima kasih karena aku masih di beri kesempatan,” ucapku dalam hati, namun, ia seperti tahu isi hatiku. Ia mengangguk, lalu meninggalkanku di sini. Di alam nyata. Bersama keluargaku.