My Photobox

This is our togetherness
Photo Manipulation with Angelia Naftali Herawan


Brush bubble 😀
This is the favorite one

This is Kiki Lindha

Cute Apple
Hard Street
This is THE BEST one!

Sementara baru ‘itu dulu’ deh ya, hihi. Kapan-kapan kalo koneksinya agak beneran dikit aku masukin sekalian semuanya. Terima kasih 🙂

Tips Untuk Calon Penulis

Ada kalanya, kita yang hobi membaca bosen sama bacaan yang kita baca (padahal biasanya addicted banget). Ada beberapa kemungkinan yang bikin kita bosan. Misal, kita yang suka banget teenlit bisa tiba-tiba berhenti baca novel teenlit. Kemungkinan, karna genre itu lama kelamaan terasa ‘biasa banget’ buat kita. Atau, alur ceritanya yang kelewat mudah ditebak. Bisa juga, karena kita merasa digurui secara nggak langsung. Walaupun penulis novel itu adalah penulis favorit kita, tapi tetep nggak menutup kemungkinan buat bosan sama tulisannya, kan? 
So? Kita harus gimana, dong? Bacanya yang genre metropop, gitu?
Jangan paksa dirimu, guys. Biasanya kita kalau udah fanatik sama hal-hal tertentu, susah kan buat berpaling? Hehe, jadi, yang paling gampang adalah..

Buat sendiri dong novelnya!

Emang aku bisa?
Nggak ada kata nggak bisa!
Kenapa? Karena pada dasarnya, setiap manusia itu lahir dan sudah diberi bakat untuk menulis. 
Kalo gitu kenapa tulisanku hasilnya nggak bagus?
Itu karena (pasti) kita jarang mengasahnya. Anggapan kalo kita nggak berbakat itu buat kita malas mengasah kemampuan yang sebenernya udah pasti kita punya. Makanya, dari sekarang biasakan menulis. Entah menulis apapun, yang penting biasakan.
Oke, aku pengen jadi penulis. Tapi kok keliatannya susah ya?
Coba dulu, baru komentar. Tulis yang pendek-pendek dulu. Puisi, misalnya. Pendek bukan berarti mudah. Panjang juga bukan berarti susah. Itu semua tergantung kita aja. Kalo udah bikin puisi, coba minta komentar teman. Harus jujur! Kalo jelek suruh aja bilang jelek! 

Aku pengen sering-sering nulis, tapi kok pasti idenya lenyap entah kemana..
Jujur, kalo ini sih penulis manapun juga pasti sering mengalaminya. Termasuk aku, walaupun masih amatir. Tapi aku ingat tulisannya Mbak Trinzi Mulamawitri, Managing Editornya majalah KaWanku. Katanya, “Jangan menunggu ide itu datang, tapi paksakan dia keluar”. Sampe sekarang aku berusaha buat nerapin itu, walau emang (beneran) susah banget. Kalo udah di depan komputer, padahal lagi nggak ada ide, pasti cuma bisa melongo. Tapi akhirnya bener-bener aku paksain tanganku nulis, dan jadi juga, walau jelek. Intinya, paksa si ide keluar.
Ide udah ada, tangan udah nulis, tapii.. stuck di tengah jalan
Istilah kerennya, writing block. Oke, aku juga sering. Malangnya, biasanya kalo udah berhenti di tengah jalan, maka nasibnya sudah bisa dipastikan tidak selesai. Aku sering nyesel, kenapa cerpen-cerpenku banyak yang nggak selesai, padahal ide sudah ada dan tersusun rapi. Mungkin kita bingung cara penyampaiannya, atau karena ada gangguan-gangguan tertentu yang bikin kita nggak niat lagi buat ngelanjutin tulisan kita. Well, biasanya kalo aku udah stuck di tengah jalan sih, aku selingin dulu sama dengerin lagu, atau makan. Tapiii.. plis, jangan lebih dari 15 menit kita ninggalin tulisan kita. Kenapa? Karena setelah itu pasti kita udah bener-bener malas buat lanjut. So, biarkan otak kita istirahat dulu sebentar, baru lanjutin. Nggak ada alasan buat nggak lanjut. Oya, usahakan jangan bikin cerpen sambungan, ya. Maksudnya kita bikin hari ini, terus kita selesaikan besok. Karena so pasti hasilnya akan beda kalo kita selesaikan saat itu juga.
Tulisan finish, tapi takut banget buat nilai tulisan kita sendiri
Manusiawi banget, kok. Kita nggak siap buat ngadepin kenyataan kalo ternyata tulisan kita, kalo kita baca sendiri aja kerasa jelek banget. Pasti bikin down, kan? Mending kita suruh temen atau keluarga kita yang baca. Minta dia atau mereka buat kasih kritik dan masukan. Jangan lupa hal-hal kecil kaya ke’real’an tulisan kita. Atau jangan-jangan ada sesuatu yang mustahil yang kita tulis. Hal-hal sepele seperti itu jangan sampai terlewat, ya.

Itu cuma sedikit tips aja, guys. Yang paling penting itu niat dan keyakinan. Pokoknya kita harus yakin sama diri kita sendiri. Jangan pernah minder! Apalagi takut. It’s big no no!
Oke, maaf ya kalo ada kata-kata yang kurang berkenan. See you! 🙂

It’s Called Forum Tinta Sahabat

Emm.. sebenernya udah ada ‘sesuatu’ yang bisa dipost yang udah aku save di draft, tapi dipikir-pikir aneh mungkin ya kalo aku langsung to the point tanpa ada perkenalannya. Jadi susah dimengerti mungkin nantinya. Jadi, sekalian ngisi waktu, aku mau ngasih gambaran apa-apa aja yang akan nongol di blog ini. Label-label yang mungkin:

  • Forum Tinta Sahabat
  • Photoshop
  • Photobox
  • Let’s Start Writing ‘Cerpen’
  • Intermezzo
  • Lainnya
Yang aku utamain yaitu Forum Tinta Sahabat. Nama apa itu? Itu adalah nama grup di facebook yang membahas tentang tulis-menulis, dan lomba-lomba menulis. Kenapa itu yang aku utamain? Karena itu hobi utamaku 😀
Oke, wanna join? Forum Tinta Sahabat

5 Langkah Sederhana Untuk Memulai Sebuah Cerita

Untuk memulai sebuah tulisan (cerita) memang tidak segampang menyibak gorden jendela. Malah banyak yang bilang bahwa memulai sebuah tulisan itu sulitnya bukan main. Itu bisa dibuktikan jika kita menghadiri acara workshop kepenulisan. Di saat sesi tanya-jawab, pasti ada saja seseorang yang mengangkat tangan kanannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana sih caranya memulai sebuah tulisan?” Padahal, kalau dipikir-pikir, buku-buku tentang kepenulisan itu sudah banyak yang diterbitkan. Arswendo sudah menulis Mengarang itu Gampang, A.S Laksana juga sudah membuat buku Creative Writing, dan masih banyak lagi buku-buku yang serupa dengan itu, tapi—apa boleh buat—sepertinya permasalahan tentang mengawali sebuah tulisan itu memang tidak akan pernah hilang sampai kiamat datang (hehe. Lebay!).

Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita). Here we go!

1. Mulailah dengan Dialog
“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)

2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit…. (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)

3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong…. Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)

Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami…. (Sirkus, cerpen Agus Noor)

4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

5. Mulailah dengan Seting Tempat
Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian…. (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)

Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan…. (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari….”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali….”

Oke, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini sampai selesai. Semoga bermanfaat. Jika kalian ada masukan, tulis komentar di bawah, ya. Senang jika kita bisa berbagi.

[Sumber:http://www.sindikatpenulis.com]